Jumat, 14 Oktober 2011

Budidaya PARIA

Paria atau biasa disebut pare, merupakan salah satu jenis sayuran yang mempunyai nilai ekonomi dan peluang pasar cukup luas mulai dari pasar tradisional hingga swalayan atau supermarket. Buah muda pare biasa dikonsumsi sebagai bahan sayuran maupun lalapan. Selain itu pare dapat digunakan sebagai campuran untuk ramuan jamu.
Meskipun prospek dan peluang pasar cukup luas, namun kultur budidaya tanaman ini masih sebagai tanaman sampingan. Pada awalnya budidaya tanaman pare dilakukan dalam skala kecil, dilahan pekarangan dan tegalan dengan pemeliharaan yang kurang intensif. Namun dibeberapa daerah penanaman pare mulai dilakukan dengan intensif dalam skala yang cukup luas.
Buah yang memiliki rasa pahit dengan bentuk buah panjang serta bergerigi ini, ternyata memiliki kandungan gizi dan vitamin yang cukup. (tabel kandungan gizi dan vitamin.  Buah pare juga mengandung kandungan obat-obatan, diantaranya dapat digunakan untuk mengatasi penyakit diabetes, darah tinggi, dan sebagai penurun panas.
Dewasa ini, dengan perkembangan ilmu dan tehnologi dalam bidang pertanian khususnya perbenihan, telah banyak dihasilkan beragam varietas pare yang memiliki sifat-sifat yang unggul. PT. BISI International Tbk, merupakan salah satu perusahaan perbenihan, telah merilis beberapa benih varietas pare unggul, yang diantaranya : Maya, New Maya, Comodor, Proton, Fresty dan Isabel.
Syarat Tumbuh

Tanaman pare pada umumnya dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik didaerah dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter dari permukaan air laut. Suhu yang ideal adalah 18 – 24 derajat Celsius, penyinaran matahari penuh dan tidak ternaungi. Hampir semua jenis tanah pertanian cocok untuk budidaya tanaman pare. Namun tanah yang paling baik adalah tanah lempung berpasir dengan kandungan bahan organik yang cukup, drainase yang baik dengan tingkat keasaman atau pH tanah 5 – 6.
Peram & Persemaian Benih Pare

Benih pare yang digunakan sebaiknya benih yang memiliki daya tumbuh minimal 80%. Benih pare memiliki kulit yang cukup keras dan sebelum dilakukan pemeraman pecahkan kulit luar pada bagian pangkal benih tempat keluarnya calon akar, dengan menggunakan alat pemotong kuku dengan hati-hati.
Kemudian rendam benih dalam larutan fungisida selama 10 – 15 menit. Setelah 10 – 15 menit benih diperam pada kertas peram dan masukan kedalam kain handuk yang telah dibasahi dan simpan pada suhu kamar antara suhu 27 – 28 derajat Celsius.
Bersamaan dengan pemeraman, siapkan media semai. Media semai dibuat dengan menggunakan campuran tanah halus dan kompos, perbandingan 1 banding 1, atau menggunakan media semai lain yang mempunyai struktur ringan dan aerasi baik, seperti : serbuk sabut kelapa, serbuk kayu, dan lain-lain.
Setelah 2 – 3 hari, benih pare yang diperam dan telah mengeluarkan calon akar, semai pada media semai yang telah disiram terlebih dahulu. Persemaian dapat juga dilakukan dengan memasukan benih pada media semai tanpa dilakukan pemeraman terlebih dahulu. Benih yang telah diletakan pada media semai di tutup dengan plastik hitam perak. Setelah 1 – 2 kali 24 jam, benih tampak berkecambah plastik pemutup dibuka.
Siram persemaian setiap pagi dan sore sesuai dengan kebutuhan tanaman. Untuk mencegah serangan hama dan penyakit persemaian, lakukan penyemprotan pestisida dengan setengah dosis anjuran.
Persiapan lahan & Pindah Tanam

Lahan yang digunakan sebaiknya lahan yang bersih dari bekas tanaman lama. Apabila lahan banyak ditumbuhi gulma lakukan pembersihan baik secara mekanis maupun secara kimiawi.
Apabila lahan yang akan digunakan banyak ditumbuhi gulma, lakukan penyemprotan hebisida. Untuk memberantas gulma secara cepat dan tuntas, gunakan herbisida NOXONE 297SL. Dan untuk memberantas gulma sampai akar-akarnya semprot dengan herbisida sistemik RAMBO 480SL atau dengan ROGER 480SL. Olah lahan dengan membajak atau mencangkul lahan sebaik mungkin untuk memperbaiki aerasi tanah dan kemudian diratakan sehingga tanah menjadi remah.
Bedengan dibuat dengan sistem ”tangkupan”,dengan lebar bedengan 1 meter, jarak antar bedengan 2-3 meter dan jarak antar tanaman 60 - 70 cm. tinggi bedengan 20 - 30 cm. Berikan pupuk kandang 7,5 - 10 kg per 10 meter persegi bedengan dan kapur pertanian atau dolomit, 10 – 15 kg per 10 meter bedengan atau disesuaikan dengan kebutuhan untuk meningkatkan pH tanah.
Kebutuhan pupuk dasar adalah urea 3 kg, SP36, 2 kg dan Kcl, 2 kg per 10 meter persegi bedengan. Pupuk dasar dapat juga menggunakan pupuk NPK dengan dosis 3 kg per 10 meter bedengan.  Campur, ratakan dan selanjutnya lakukan pemasangan plastik mulsa. Benih yang telah disemai dan telah memiliki 2 daun sempurna, bibit siap dipindahtanam.
Buat lubang tanam sedalam 8 – 10 cm dengan jarak antar tanaman 1 meter, dan tebarkan butiran WINGRAN 0,5G pada lubang tanam untuk mencegah serangan ulat tanah. Seleksi bibit yang akan ditanam berdasarkan kesehatan dan besar kecil bibit, kemudian celupkan bibit yang telah diseleksi pada larutan fungisida VIDI 722 SL untuk mencegah serangan penyakit damping off atau rebah semai. Tanam bibit pada lubang tanam dengan hati-hati agar perakaran bibit tidak rusak. Bersamanan tanam, pasang para-para atau net yang berfungsi untuk tempat menjalarnya tanaman sehingga buah dapat menggantung dan terbentuk dengan sempurna.
Pemeliharaan Tanaman

Untuk pertumbuhan yang lebih optimal, tanaman pare perlu dilakukan pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan tanaman pare diantaranya :
• Pengikatan tanaman
• Pengairan
• Pemupukan susulan
• Pemangkasan dan pewiwilan
• Pengendalian hama penyakit tanaman
Pada awal pertumbuhnya, tanaman pare perlu dilakukan pengikatan pada lanjaran.

Pengikatan ini bertujuan untuk menjalarkan tanaman pada lanjaran dan agar buah dapat tumbuh pada para-para yang telah disediakan. Untuk pertumbuhannya, tanaman pare membutuhkan pengairan yang cukup. Setelah tanam dan sampai fase pembungaan, pengairan dilakukan 2 kali dalam seminggu. Dan setelah pembuahan, pengairan dilakukan 1 kali seminggu.
Pemupukan susulan perlu dilakukan untuk menyediakan unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam pertumbuhan vegetatif dan generatifnya. Saat tanaman berumur 7, 21, 35 dan 50 hari setelah tanam, pemupukan dilakukan dengan memberikan pupuk NPK 15 gram tiap tanaman. Dan untuk memacu pertumbuhan tanaman, semprot tanaman dengan ZPT mulai umur 0 – 14 hari setelah tanam. Saat tanaman berumur 30 – 40 hari setelah tanam, perlu dilakukan pemangkasan.
Pewiwilan tanaman pare dilakukan dengan cara memangkas semua cabang samping sekitar 30 cm dari pangkal tanaman, pemangkasan juga dilakukan pada cabang yang sudah tua dan tidak produktif serta cabang yang terkena serangan penyakit, pemangkasan ini bertujuan untuk merangsang tumbuhnya tunas baru. Selain pemangkasan, buah pare muda diajurkan untuk dibungkus dengan plastik atau kertas. Pembungkusan ini bertujuan mencegah serangan lalat buah dan serangga lainnya, agar kualitas buah tetap terjaga.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pare

Serangan hama dan penyakit pada tanaman pare hampir jarang ditemukan. Kalaupun ada itu pada tanaman yang tidak dirawat dan kondisi tanaman yang lemah. 
Hama yang biasa menyerang adalah :
• Lalat Buah
• Kutu Kebul
• Ulat Buah dan Daun
• Thrips
Sedangkan penyakit yang biasa menyerang adalah :
• Layu Fusarium
• Downy Mildew
• Bercak Cercospora
Lalat Buah

Hama lalat buah menyerang buah pare dengan meletakan telur pada buah, dan telur akan menjadi larva. Larva akan memakan buah pare dari dalam sehingga buah membusuk. Untuk pengendalian dianjurkan menyemprotkan insektisida RAYDOCK 28EC atau CYPERMAX 100EC. Pencegahan dapat dilakukan dengan membungkus buah pare dengan menggunakan kertas atau plastik.
Kutu Kebul dan Thrips

Hama ini menyerang tanaman dengan menghisap cairan daun sehingga daun menjadi keriting dan kering. Selain itu hama kutu kebul dan thrips merupakan vector virus. Untuk pencegahan dan pengendalian dianjurkan untuk menyemprotkan insektisida WINDER 25WP atau WINDER 100EC bergantian dengan insektisida MATRIX 200EC.
Ulat Buah dan Ulat daun

Hama ulat Plutella xylostella menyerang daun dan buah dengan memakan jaringan daun dan buah dengan melubangi buah. Untuk pencegahan dan pengendaliannya, dianjurkan menyemprotkan insektisida biologi TUREX WP dicampur dengan RAYDOCK 28EC atau dengan insektisida CYPERMAX 100EC.
Layu Fusarium

Tanaman yang terserang penyakit ini, akan nampak bercak kuning kecoklatan dan basah pada pangkal batang. Tanaman akan layu dan kemudian mati. Untuk pencegahannya, gunakan benih pare yang tahan terhadap penyakit layu dan telah ditreatment dengan fungisida.
Downy Mildew & Bercak daun Cercospora

Tanaman yang terserang penyakit Downy mildew ini, daun akan berwarna kuning kemudian menjadi coklat dan kering. Dan apabila daun terserang bercak cercospora, daun akan terdapat bercak-bercak putih dengan tengah berwarna coklat, kemudian daun akan mengering. Untuk pencegahan dan pengendalian dianjurkan menyemprotkan fungisida VICTORY 80WP dicampur dengan fungisida STARMYL 25WP.
Panen dan pasca panen

Tanaman pare mulai dipanen umur 50 - 60 hari setelah tanam. Buah yang siap untuk dipanen adalah buah yang memiliki ukuran buah yang maksimal. Pemanenan dapat dilakukan dengan interval 2 kali seminggu dan biasanya dapat dipanen sebanyak 12 sampai 14 kali. Setelah panen buah pare segera dipasarkan, karena pada umumnya buah pare hanya tahan simpan sampai 2 - 3 hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar